• CodePsy

PSY4: Kegunaan umum tes psikologi di abad ke-21

Penulis: Eugenia Emile Natasha

Editor: Edwin Sutamto


Secara singkat, tes psikologi merupakan sebuah cara untuk mengukur aspek psikologis manusia dengan menggunakan angka sebagai indikator. Tetapi, kapankah tes psikologi bisa digunakan sebagai alat yang berguna? Apa saja kegunaan tes psikologi dan fungsinya untuk kehidupan kita sehari-hari? Di situasi seperti apa biasanya kita bersinggungan dengan tes psikologi?


Pembahasan pengunaan tes psikologi saat ini tidak lepas dari sejarah panjang perkembangan pengukuran psikologi. Untuk sampai pada penggunaan di berbagai situasi, tes psikologi sudah melalui beragam proses dan modifikasi. Awalnya, tes psikologi hanya dibuat untuk keperluan spesifik saja, contohnya, seleksi tentara pada Perang Dunia II dengan menggunakan alat tes kecerdasan. Tetapi saat ini, tes psikologi secara umum sudah digunakan pada latar pendidkan, pekerjaan, maupun klinis. Penggunaan pada setiap latar akan dibahas mendetail di artikel-artikel selajutnya.


Sekarang ini tes tidak hanya sebagai alat bantu, tetapi juga telah menjadi produk yang fungisnya dikomersialkan. Artinya, karena adanya kebutuhan yang semakin meningkat seiring peningkatan kesadaran akan pentingnya memahami aspek psikologis, maka industri bisnis pun memandang tes sebagai hal yang bisa diperdagangkan. Ketika diperjual-belikan, tes psikologi pun tidak lepas dari hakikat utamanya, yaitu untuk memberikan makna pada atribut psikologis manusia. Berbagai pabrik bisa memproduksi ratusan palu yang berbeda, namun pada dasarnya fungsi mereka sebagai sebuah palu tetaplah sama. Hal ini pun berlaku pada tes psikologi. Ada beragam bisnis yang bergerak di bidang konstruksi alat ukur, tetapi fungsi tes ini secara umum tetap sama.


Secara umum, terdapat tiga pemanfaatan atau penggunaan tes psikologi pada saat ini. Pertama, tes digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam pengambilan keputusan mengenai individu atau kelompok. Contohnya adalah di situasi seleksi masuk perguruan tinggi. Biasanya tidak hanya tes tentang pengetahuan akademis saja yang diberikan, tetapi juga tes potensi akademik. Tes jenis ini ingin melihat apakah individu memiliki potensi untuk dikembangkan di universitas dan jurusan pendidikan pilihannya yang dilihat berdasarkan tingkat kecerdasan. Kesimpulan akhir yang diambil adalah apakah calon mahasiswa diterima atau ditolak masuk universitas dengan jurusan pilihannya. Ini adalah contoh penggunaan tes psikologi untuk pengambilan keputusan.


Meskipun terlihat sederhana karena dijadikan sebagai patokan utama dalam pengambilan keputusan, tes psikologi bisa ditakuti dan dianggap seram bagi banyak orang. Padahal dalam situasi profesional, seharusnya alat ukur psikologis digunakan sebagai salah satu data untuk pengambilan keputusan final. Hal ini perlu diingat ketika keputusan yang diambil sifatnya signifikan dan sangat penting. Sebagai contoh, kenaikan jabatan ke level direktur. Kita ingin melihat gaya kepemimpinan individu dan sikapnya terhadap kekuasaan melalui serangkaian tes psikologis. Tetapi tentu saja hasil tes ini tidak bisa berdiri sendiri untuk membuat keputusan, apakah individu ini layak atau tidak dipromosikan sebagai direktur. Di samping tes psikologi, perlu adanya rangkaian asesmen yang dilakukan untuk sampai pada keputusan tersebut.


Kedua, tes digunakan sebagai alat bantu dalam penelitian tentang fenomena psikologis, terutama yang melibatkan perbedaan dan keunikan antar individu atau kelompok. Meningkatnya perkembangan alat ukur psikologi menyebabkan banyaknya alat ukur yang tersedia untuk mendapat gambaran tentang beragam aspek psikologis individu. Ilmu psikologi yang sedang berkembang pun dapat memanfaatkan beragam tes ini untuk terus mencari dan mengembangkan pengetahuan terkait beragam fenomena psikologis. Di samping itu, penggunaan tes ini tidak terbatas pada penelitian di bidang psikologi saja, tetapi penelitian multidisiplin.


Apakah Anda pernah mencoba tes kepribadian yang menggolongkan manusia menjadi 16 tipe kepribadian? Tes ini berkembang dari teori psikologi kepribadian yang dikemukakan oleh Carl Jung, kemudian dikembangkan secara teoritis dan sistematis oleh Myers-Briggs, hingga populer dengan nama MBTI (Myers-Briggs Type Indicator). Selain untuk digunakan masyarakat luas, tes ini pun juga dikembangkan sebagai alat bantu penelitian untuk mendapat pengetahuan lebih tentang dinamika kepribadian manusia. Meskipun Jung tidak lagi bisa secara langsung mengembangkan teorinya, tetapi peneliti generasi selanjutnya tetap dapat mengembangkan teori ini melalui beragam penelitian. Tentu saja, penelitian ini juga akan memanfaatkan alat ukur psikologis.


Ketiga, tes psikologi digunakan sebagai bahan refleksi pribadi guna memahami diri sendiri dan mengembangkan diri. Hasil tes psikologi akan menggambarkan bagian dari diri kita sendiri jika kita mengerjakannya dengan jujur dan sesuai keadaan diri sendiri. Sebagai contoh, hasil tes 16 tipe kepribadian Anda mengatakan bahwa Anda memiliki tipe A. Hasil tes ini biasanya juga akan melampirkan kelebihan dan kekurangan Anda sebagai orang dengan tipe kepribadian A. Dari hasil ini, Anda bisa mengetahui mana yang sesuai dan kurang sesuai dengan Anda. Anda bisa membuat rencana pengembangan diri berdasarkan apa yang masih bisa ditingkatkan berdasarkan hal tersebut. Tetapi perlu diingat bahwa setiap hasil tes psikologis menggambarkan sebagian diri Anda, bukan Anda secara keseluruhan. Oleh karena itu, jika Anda merasa tidak sesuai dengan hasilnya, Anda bisa merefleksikan hal yang tidak sesuai. Dengan proses ini, Anda bisa lebih mengenal diri Anda, tidak hanya dari kelebihan saja, tetapi juga beberapa area yang masih bisa dikembangkan.


Di berbagai situasi yang telah disebutkan, tes psikologi pun memiliki fungsi dan peranan yang lebih spesifik. Sebagai contoh, pada situasi pendidikan, biasanya tes digunakan untuk mengetahui potensi belajar, gaya belajar, minat dan bakat, hingga evaluasi hasil belajar seorang anak. Di latar pekerjaan, penggunaan utama tes psikologi adalah untuk keperluan rekrutmen, seleksi, klasifikasi karyawan. Tes ini digunakan untuk menggambarkan gaya bekerja, gaya kepemimpinan, hingga kepribadian individu, dalam beragam keperluan yang hasilnya digunakan sebagai pertimbangan pengambilan keputusan akhir: diterima atau ditolak, jika diterima, penempatan pada pekerjaan seperti apa yang membuat individu akan memiliki performa kerja maksimal. Pada situasi klinis atau konseling, tes psikologi paling banyak dimanfaatkan untuk mendiagnosa permasalahan psikologis klien. Fungsinya adalah mencaritahu letak permasalahan individu untuk menemukan cara yang paling efisien untuk memodifikasi permasalahan sehingga individu bisa menjalani hidup sehari-harinya dengan nyaman.

Referensi

Anastasi, A. & Urbina, S. (1997). Psychological testing, 7th edition. Upper Saddle River, NJ: Prentice- Hall, Inc.

Chadha, N. K. (2009). Applied psychometry. New Delhi, India: Sage Publisher.

Urbina, S. (2004). Essentials of psychological testing. Hoboken, NJ: John C Wiley & Sons.


60 views0 comments