• CodePsy

PSY1 : Merefleksikan makna pengukuran psikologis

Penulis: Edwin Sutamto


Apa hal pertama yang muncul di pikiran Anda ketika mendengar kata “pengukuran”? Sebagian besar dari kita mungkin akan menjawab “angka”. Hal ini tidak mengherankan karena sesuai dengan definisinya, pengukuran adalah aturan untuk memberikan angka yang menunjukkan kuantititas dari atribut suatu objek (Nunnally, 1970). Atribut yang dimaksud bisa berupa aja saja, seperti panjang, lebar, volume, hingga atribut abstrak seperti kecerdasan dan kepribadian. Jika Anda mengukur panjang kertas dengan penggaris dan menemukan bahwa panjangnya adalah 20 cm, maka Anda telah memberikan angka 20 cm untuk menggambarkan panjang kertas tersebut.


Lalu bagaimana dengan pengukuran dalam konteks psikologi? Apakah aspek psikologis manusia yang tidak terlihat seperti kepribadian atau kecerdasan dapat dikur? Jawabannya adalah “YA” dan cabang ilmu psikologi yang secara spesifik mempelajari pengukuran psikologis disebut dengan psikometri. Jadi pengukuran psikologis adalah aturan di dalam memberikan angka yang menunjukkan kuantitas dari atribut psikologis, seperti emosi, kepribadian, minat dan bakat. Sesuai dengan definisinya, tentu terdapat sejumlah aturan atau prosedur yang perlu dilalui untuk mengukur aspek psikologis dengan baik.


Diskusi mengenai pengukuran psikologis selalu menjadi topik yang relevan dan menarik karena tampaknya kita semua pernah mengerjakan/menggunakan tes psikologi yang merupakan alat dari pengukuran psikologis (seperti halnya penggaris). Sebelum berdiskusi lebih dalam, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu sejumlah prinsip dasar dari pengukuran psikologis agar kita menjadi lebih mawas dan sensitif terhadap penggunaan tes psikologi.


Melalui pembahasan di atas, kita mengetahui bahwa definsi pengukuran adalah aturan dalam memberikan angka, namun pernahkah Anda bertanya mengapa kita perlu mememberikan angka di dalam psikologi? Mengingat bahwa fokus studi dari psikologi adalah manusia, bukankah hal tersebut seperti tidak memanusiakan manusia? Bukankah aktivitas memberikan angka sama seperti ketika seorang dokter mengidentifikasi pasien dengan nomor kamar (bukan dengan nama) atau memberikan label angka pada sampel eksperimen penelitian?


Jawaban atas pertanyaan ini akan lebih jelas jika kita membandingkan antara ilmu kedokteran dan ilmu psikologi. Kedua bidang ilmu sama-sama mempelajari tentang manusia, lalu apa yang membedakan mereka? Hal yang membedakan keduanya adalah dimensi manusia yang dipelajari. Jika kedokteran berfokus pada dimensi fisik, maka psikologi berfokus pada dimensi psikologis. Sama seperti ketika Anda melakukan tes darah, angka yang muncul menggambarkan kadar lemak atau gula dalam darah Anda dan bukan pada diri Anda. Begitu juga dalam tes psikologi, suatu angka diberikan pada aspek khusus dalam dimensi psikologis, seperti tingkat kecerdasan atau kesejahteraan mental dan bukan pada diri Anda. Dengan demikian kita perlu memahami bahwa yang menjadi fokus dari psikometri adalah atribut psikologis dari manusia dan bukan pada manusia itu sendiri.


Penjelasan ini tentu belum menjawab pertanyaan mengapa kita membutuhkan pengukuran di dalam psikologi. Memang benar bahwa pengukuran yang ilmiah menjadikan psikologi sebagai sebuah ilmu karena melibatkan suatu proses yang empiris dan sistematis. Akan tetapi pada hakikatnya, pengukuran membantu untuk memahami manusia dengan lebih baik, sehingga kita dapat mengambil kesimpulan tentang individu atau kelompok dengan lebih tepat (Urbina, 2004). Tergantung dari cara pemanfaatannya, tes psikologi dapat membantu praktik dan mengembangkan keilmuan psikologi, tetapi juga berpotensi untuk membahayakan orang lain.


Sebagai sebuah alat, mari kita bandingkan tes psikologi dengan benda di sekitar kita, misalnya palu. Kita memahami bahwa palu dapat membantu manusia menancapkan paku di kayu untuk membangun rumah, membuat furnitur, menggantung lukisan di dinding, apabila digunakan sesuai dengan tujuan utama pembuatannya. Tetapi jika tidak digunakan secara hati-hati, maka palu dapat melukai dan membahayakan nyawa orang lain. Sama seperti palu, pemanfaatan tes psikologi secara tidak bijak atau penyusunan tes tanpa mengikuti kaidah ilmiah dapat berujung pada penarikan kesimpulan yang tidak tepat, pembenaran terhadap perilaku diskriminatif, yang akhirnya dapat merugikan dan mendegradasi nilai kemanusiaan itu sendiri. Meskipun suau tes merupakan metode yang efisien, pengukuran psikologis sebaiknya dihayati lebih dari sekedar memberikan angka atau menyederhanakan komplesiktas manusia dengan angka, melainkan sebagai suatu usaha untuk memahami kualitas individu atau kelompok yang beragam dan ditujukan untuk kebaikan umat manusia. Bukankah itu esensi dari setiap ilmu pengetahuan?


Kita mengetahui bahwa sekarang ini tes psikologi tidak hanya lagi berperan sebagai alat, tetapi juga sebagai produk yang fungsinya dikomersialkan secara lebih luas untuk berbagai kebutuhan di sektor pendidikan, bisnis, atau kesehatan mental. Oleh karena itu dampak dari pengukuran psikologis juga menjadi lebih besar terhadap keseharian kita. Dalam rangka memelihara manfaat yang diberikan, peserta dan pengguna tes (termasuk psikolog) perlu lebih kritis di dalam memilih dan memanfaatkan tes psikologi, begitu juga penyusun alat tes dan penyedia jasa layanan yang perlu menjamin secara ilmiah kualitas dari alat tes yang ditawarkan.


Di Indonesia sendiri kita memiliki sejumlah pakar psikometri yang tergabung di Universitas atau Asosiasi Psikometrika Indonesia (APSIMETRI) yang tentunya dapat dijadikan mitra sekaligus sumber pengetahuan. Dalam hal ini, CodePsy akan berkontribusi melalui tulisan-tulisan berbentuk artikel dengan harapan dapat membantu Anda memahami pengukuran psikologis. CodePsy akan mengunggah artikel informatif dan edukatif tentang pengukuran psikologis secara rutin, dengan topik-topik terstruktur yang disajikan dengan bahasa sehari-hari. Oleh karena itu, mari terus ikuti blog CodePsy untuk mendapatkan pengetahuan lanjutan tentang pengukuran psikologis.


Referensi

Nunnally, J. C. (1970). Introduction to psychological measurement. New York, NY: McGraw-Hill.

Urbina, S. (2004). Essentials of psychological testing. Hoboken, NJ: John C Wiley & Sons.

213 views0 comments