• CodePsy

PSY3: Miskonsepsi asesmen dan tes psikologi

Penulis: Eugenia Emile Natasha

Editor: Edwin Sutamto


Di masyarakat sering kali terdengar kata-kata asesmen psikologi dan tes psikologi. Dua frasa ini dianggap sebagai hal yang sama dan sering digunakan untuk merujuk pada hal yang sama, yaitu pengukuran psikologis. Kata asesmen digunakan sebagai pengganti kata-kata “tes” karena “asesmen” terdengar lebih ringan dan lembut dibandingkan “tes”, yang terkesan berusaha menguji manusia. Padahal, dua hal ini merupakan hal yang berbeda, namun saling bersinggungan.


Tes psikologi merujuk kepada alat bantu yang digunakan untuk mengukur suatu aspek spesifik dari dimensi psikologis seseorang. Kontras dengan tes psikologi, asesmen psikologi adalah rangkaian penilaian psikologis yang dijalani untuk mengambil sebuah keputusan tentang permasalahan tertentu. Dalam asesmen, aspek psikologis yang ingin diketahui berjumlah lebih dari satu. Maka dari itu, asesmen merupakan sebuah rangkaian untuk mengumpulkan ragam informasi tentang beberapa aspek psikologis dengan tujuan menjawab atau mendapatkan gambaran tentang suatu permasalahan. Data yang didapatkan dari proses ini dievaluasi dan dianalisis berdasarkan kebutuhan dan keperluan asesmen.


Jika tes psikologi biasanya menggambarkan satu aspek spesifik, asesmen berusaha menggambarkan dimensi psikologis dan dinamikanya secara menyeluruh. Sebagai contoh, hasil tes kecerdasan seorang anak akan memberi gambaran potensi belajarnya, sedangkan dalam asesmen yang bertujuan mengetahui profil anak dalam pembelajaran secara komprehensif, tes kecerdasan pun akan dilibatkan sebagai bahan pertimbangan. Tidak hanya tes kecerdasan saja yang dilibatkan, tetapi wawancara dengan orangtua dan guru terkait perilaku belajar anak, observasi perilaku anak di kelas, hingga memberikan tes lain yang relevan.


Ketika kita membicarakan tentang asesmen psikologi, pembicaraan tentang tes psikologi biasanya akan disangkutpautkan. Bagaimana hubungan kedua hal ini sebenarnya? Tes psikologi biasanya selalu dilibatkan dalam sebuah asesmen. Kendati demikian, tes psikologi bukanlah satu-satunya alat untuk mendapatkan data tentang dimensi psikologis seseorang. Ada teknik lain seperti wawancara, bermain peran, hingga studi kasus untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang seseorang. Karena kerumitan dan banyaknya prosedur yang harus dilalui, biasanya asesmen melibatkan lebih banyak orang daripada tes psikologi.


Jika kita membandingkan psikologi dengan bidang ilmu lain, seperti kedokteran, asesmen dapat diibaratkan sebagai serangkaian prosedur yang dilakukan dalam rangka menegakkan diagnosis. Gunanya adalah mempermudah komunikasi tentang kondisi pasien, serta membantu dalam mencari pengobatan yang paling tepat sesuai kondisi pasien. Suatu penyakit bisa memiliki gejala yang beragam, oleh karena itu, para dokter pun memerlukan pengetahuan komprehensif tentang pasien tersebut. Data ini bisa didapatkan dari keluhan pasien di ruang konsultasi, serangkaian tes, hingga melihat rekam medis pasien.


Dalam melakukan asesmen, hal yang terpenting adalah menentukan tujuan dengan jelas dan realistis. Tanpa adanya tujuan yang jelas, rangkaian asesmen bisa kehilangan arah dan tidak mencapai hasil memuaskan. Dengan analogi di atas, tanpa tahu bahwa tujuan melakukan prosedur panjang tersebut adalah mengetahui penyakit apa yang muncul, maka seluruh tahapan itu akan sia-sia. Asesmen ibarat perjalanan panjang yang akan melalui beragam kota di Jawa. Jika kita tidak menentuan tujuan akhir perjalanan tersebut atau bahkan tujuan perjalanan itu dilakukan, usaha tersebut bisa menjadi tidak tepat sasaran karena kita sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya hendak disasar.


Perancangan asesmen menuntut adanya tujuan yang memadai sebagai acuan memilih cara terbaik dalam pengambilan dan pengumpulan data. Cara yang dimaksud adalah alat bantu atau metode, seperti penggunaan tes psikologi (satu asesmen dapat menggunakan satu atau lebih alat ukur psikologi) atau metode pengumpulan data lainnya. Pemilihan metode ini dirangkai berdasarkan tujuan pelaksanaan asesmen. Data tersebut harus bisa digunakan dan memberikan sumbangan untuk menarik kesimpulan sebagai jawaban akan permasalahan. Oleh karena itu, dalam asesmen yang bertujuan untuk mengambil keputusan kenaikan pangkat, tes gaya kepemimpinan dan observasi langsung ketika orang tersebut bekerja akan menjadi relevan.


Beberapa permasalahan yang biasanya menggunakan asesmen psikologis meliputi pertanyaan diagnostik, seperti membedakan fungsi kognitif atau membedakan gangguan psikologis; membuat prediksi seperti performa di pekerjaan; dan membuat penilaian evaluatif, seperti pengambilan keputusan untuk hak asuh.


Hasil tes psikologi biasanya berupa sebuah angka yang dilengkapi dengan penjelasan singkat hasil interpretasi terstandar, sedangkan hasil asesmen biasanya berupa laporan tertulis yang menyampaikan kesimpulan dari semua data yang didapatkan dari keseluruhan proses asesmen. Karena asesmen mengutamakan penggambaran keunikan individu atau kelompok, laporan tersebut lebih komprehensif dan menjelaskan secara rinci. Hasil tes kecerdasan seseorang akan menginformasikan hanya tingkat kercerdasannya saja, tetapi dalam asesmen tentang gaya belajar, hasilnya akan berupa penjelasan mendalam dari berbagai aspek yang relevan dengan proses pembelajaran. Semakin panjang dan kompleks proses asesmen, akan semakin sulit proses evaluasi dan pengambilan keputusan berdasarkan data-data itu. Biasanya tidak hanya ahli dari bidang ilmu psikologi yang terlibat dalam penarikan kesimpulan dan pembuatan laporan, tetapi juga ahli dari cabang ilmu lain yang relevan dengan asesmen tersebut.


Secara lebih spesifik, berikut adalah rangkuman menggambarkan perbedaan antara tes dan asesmen:

Tes psikologi dan asesmen psikologi adalah dua hal yang sangat berbeda. Meskipun masyarakat banyak menggunakan keduanya untuk mengacu pada hal yang sama, miskonsepsi ini perlu diluruskan, terutama dalam setting profesional. Dua hal ini memiliki perbedaan drastis yang juga digunakan untuk tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, penggunaan kata “tes” dan “asesmen” psikologi pun perlu diperhatikan agar tidak lagi terjadi miskonsepsi dan kesalahpahaman.

Referensi

Urbina, S. (2014). Essentials of psychological testing, 2nd edition. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons, Inc.

474 views0 comments