• CodePsy

PSY5: Penggolongan tes psikologi dan kualifikasi yang dibutuhkan

Penulis: Edwin Sutamto


Kita mengetahui bahwa fungsi dari tes psikologi telah berkembang dari sebuah alat bantu menjadi sebuah produk yang dikomersialkan. Perubahan ini bukan merupakan hal yang buruk, tetapi sebuah mekanisme kontrol tetap diperlukan untuk merawat kegunaan positif dari tes psikologi. Jika di artikel sebelumnya CodePsy telah membahas kegunaan dari tes psikologi, maka artikel kali ini akan membahas tentang tingkatan pada tes psikologi dan kompetensi yang dibutuhkan untuk menggunakan tes di setiap tingkatan.

Sebelum masuk kepada pembahasan inti, mari kita pahami bersama bahwa setidaknya terdapat tiga pihak yang terlibat di dalam alur penyediaan tes, yaitu penyusun, penerbit dan pengguna tes. Penyusun tes adalah mereka yang mengembangkan tes untuk kemudian dipublikasikan di dalam buku, jurnal, atau untuk kepentingan komersial. Penerbit tes adalah mereka yang mempublikasikan, mempromosikan, dan menjual, serta mengontrol pendistribusian tes. Terakhir, pengguna tes adalah orang yang bertanggung jawab terhadap proses pemilihan tes, administrasi tes, dan skoring, untuk kemudian dianalisis, diinterpretasi, dan dikomunikasikan, baik untuk kepentingan pengambilan keputusan atau penentuan tindakan yang didasari oleh skor tes. Individu yang hanya mengadministrasikan tes atau memberi skor tidak tergolong ke dalam pengguna tes.

Hubungan antara penyusun, penerbit dan pengguna tes mirip seperti hubungan antara

pemasok, distributor, dan konsumen. Layaknya sebuah alur penjualan, tentu proses ini diharapkan mampu memberikan keuntungan bagi semua pihak. Oleh karena itu, salah satu faktor yang diperlukan untuk merealisasikan hal ini adalah kebijakan atau aturan penerbit di dalam mendistribusikan tes. Setiap penerbit bisa saja memiliki kebijakan yang berbeda-beda, namun pada umumnya penerbit akan mengharuskan pembeli untuk menunjukkan kualifikasi penggunaan tes yang ingin dibeli, serta kesanggupan mengikuti pedoman etik dan hukum yang berlaku (misalnya tes tidak diperbanyak tanpa izin).

Lalu pertanyaannya adalah bagaimana penerbit menentukan kualifikasi yang diperlukan? Acuan yang umumnya digunakan adalah pedoman yang dikeluarkan oleh American Psychological Association (APA) yang menggolongkan tes menjadi tiga tingkatan. Pertama adalah tes tingkat A. Tes dalam tingkat ini dapat diadministrasikan, diskoring, dan diinterpretasi dengan mengikuti manual yang disediakan tanpa harus mengikuti pelatihan khusus tertentu. Biasanya pihak pembeli diharuskan memiliki gelar sarjana di bidang yang berkaitan atau tes dipesan melalui suatu institusi atau agensi. Contoh tes tingkat A adalah tes prestasi akademik.

Kedua adalah tes tingkat B. Pihak pembeli tes umumnya memiliki gelar Master di bidang psikologi atau telah menyelesaikan kelas atau coursework terkait tes dan asesmen. Contoh tes tingkat B adalah tes kecerdasasan dan kepribadian yang digunakan pada kelompok umum dan diadminsitrasikan secara klasikal (secara bersama-sama).

Ketiga adalah tes tingkat C. Pembeli tes tingkat ini telah menyelesaikan kelas lanjutan terkait tes dan asesmen, serta memiliki memiliki pengalaman disupervisi selama minimal satu tahun oleh seorang psikolog senior. Pengalaman tersebut umumnya diperoleh pada saat menempuh pendidikan doktoral atau pendidikan profesi psikolog yang selaras dengan dengan area pemanfaatan tes (misalnya area klinis, pendidikan, atau industri dan organisasi). Contoh tes tingkat C adalah tes kecerdasaan yang diadministrasikan secara individual atau tes proyektif seperti tes Rorschach.

Kebijakan dari penerbit hanya merupakan salah satu bentuk kontrol terhadap pemanfaatan tes psikologi. Pada konteks Indonesia, situasi ini menjadi lebih menantang karena jumlah penerbit tes yang tergolong masih sangat sedikit. Dalam situasi ini, kualitas pemanfaatan tes akan sangat dipengaruhi oleh kompetensi dan integritas dari pengguna tes. Sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan oleh APA, pengguna tes perlu memiliki pengetahuan yang baik tentang tes dan asesmen, serta mampu mengintegrasikan sejumlah aspek pengetahuan, mulai dari pengetahuan teknis terkait psikometri, prinisip metodologi, teori yang melandasi pengukuran konstruk, serta kaitan antara tes yang dipilih dengan kebutuhan pengetesan.

Referensi

American Psychological Association. (2000). Report of the Task Force on Test User Qualifications. Washington, DC: Author.

Urbina, S. (2004). Essentials of psychological testing. Hoboken, NJ: John C Wiley & Sons.

130 views0 comments