• CodePsy

PSY2: Problematika dalam pengukuran psikologis

Penulis: Eugenia Emile Natasha

Editor: Edwin Sutamto


Secara singkat, pengukuran dalam bidang psikologi bermaksud untuk memberikan angka pada suatu atribut spesifik dari dimensi psikologis manusia yang tidak bisa diobservasi secara langsung. Contoh aspek psikologis yang biasanya diukur adalah kecerdasan, kepribadian, sikap, minat dan bakat. Karakteristik ini berbeda dengan dimensi fisik manusia yang memiliki wujud fisik, seperti berat dan tinggi badan, atau jumlah sel dan kadar kolesterol dalam darah. Karena sifat dari aspek psikologis yang abstrak, pengukuran dalam bidang psikologi menemui beberapa kesulitan dan rintangan.


Pertama, tidak adanya pendekatan universal yang berlaku untuk semua pengukuran aspek psikologis. Jika kita ingin mengukur sebuah aspek fisik manusia seperti suhu tubuh, maka jelas bahwa keberadaan panas atau kalor menjadi indikator dari pengukuran suhu tersebut. Namun pada bidang psikologi, tidak ada indikator yang secara langsung dapat menunjukkan tingkat/derajat dari aspek psikologis yang akan diukur. Oleh karena itu, pengukuran aspek psikologis dilakukan dengan menggunakan tolak ukur perilaku yang menggambarkan perwujudan dari aspek tersebut.


Sebagai contoh kita ingin mengukur tingkat kecerdasan, bagaimana kita mengukurnya? Dalam hal ini, tingkat kecerdasan diukur melalui sekumpulan perilaku yang dianggap “cerdas” dan “tidak cerdas”, misalnya kemampuan individu di dalam menyelesaikan permasalahan yang kompleks. Tetapi apakah hanya perilaku tersebut yang menggambarkan inteligensi seseorang? Tentu saja tidak. Permasalahannnya adalah tidak ada kesepakatan umum mengenai definsi dan perilaku yang menggambarkan kecerdasan seseorang. Dua orang ahli dapat memiliki pendapat yang berbeda tentang satu aspek psikologis yang sama.


Menyikapi perbedaan ini, pemilihan teori dan pemilihan sampel perilaku yang menggambarkan suatu aspek psikologis akan sangat memengaruhi kesimpulan yang diambil dari skor alat tes. Kita tidak bisa serta-merta membandingkan skor dari dua alat tes yang berbeda, walaupun kedua alat tes mengukur suatu aspek psikologis yang sama. Bisa jadi teori dan definisi perilaku dari kedua alat tes tersebut berbeda. Oleh karena itu menjadi penting bagi kita untuk memahami landasan teori yang digunakan sebelum menginterpretasi hasil dari suatu alat tes psikologi.


Kedua, aspek psikologis diukur berdasarkan sampel perilaku yang terbatas. Jika dibandingkan dengan pengukuran aspek fisik seperti sel darah merah, tentu kita dapat mengambil sampel darah yang mampu menunjukkan kadar sel darah di dalam tubuh kita secara keseluruhan. Mengingat bahwa pengukuran psikologis didasari oleh sampel perilaku, apakah kemudian satu sampel perilaku sudah cukup untuk menggambarkan suatu aspek psikologis? Berapa jumlah sampel perilaku yang kemudian dibutuhkan? Di sisi lain, kita juga tidak bisa menggunakan seluruh sampel perilaku yang terpikirkan untuk menggambarkan suatu aspek psikologis. Bayangkan jika Anda diminta untuk mengidentifikasi perilaku-perilaku yang menggambarkan kecerdasan, jumlahnya pasti akan sangat banyak dan tidak terbatas. Oleh karena itu menjadi penting untuk memastikan keterwakilan sampel perilaku dari suatu aspek psikologis berdasarkan bangunan teori yang dijadikan landasan didalam penyusunan alat ukur.


Ketiga, pengukuran psikologis dipengaruhi oleh kesalahan (error). Prinsipnya hampir sama seperti ketika Anda melakukan tes tensi darah. Apakah ketika tes memunculkan angka 120 berarti tingkat tensi Anda benar-benar di angka tersebut? Jawabannya belum tentu karena adanya prinsip error di dalam pengukuran. Bisa jadi tes tersebut sebenarnya memiliki derajat error +/- 5 yang berarti tingkat tensi Anda yang sebenarnya berada pada rentang angka 115-125.


Pengukuran aspek psikologis menjadi lebih rentan terhadap error karena karakteristiknya yang bersifat laten (tidak terlihat) dan didasarkan pada pemilihan sampel perilaku yang terbatas, sehingga sebagai konsekuensinya lebih banyak aspek-aspek pengukuran yang perlu untuk dikontrol. Sebagai contoh, Anda mengikuti tes kecerdasan hari ini. Jika dua minggu lagi Anda mengambil tes yang sama, kemungkinan skor Anda akan berubah. Perubahan ini bisa terjadi karena berbagai macam hal, seperti Anda masih mengingat jawaban soal-soal, kondisi tubuh Anda berubah, hingga latar ruangan tempat Anda mengerjakan tes tersebut berbeda. Oleh karena itu, menjadi penting untuk mengidentifikasi error yang mungkin muncul di dalam pengukuran dan meminimalisir kemunculan error-error tersebut.


Keempat, kurangnya satuan ukur yang baku pada skala pengukuran untuk mengartikan angka hasil pengukuran. Jika Anda mendapatkan hasil tes kecerdasan sebesar 100, lalu IQ B, teman Anda, adalah 105, lalu teman Anda, C, yang lain 110, apakah artinya B lebih pandai dari Anda sebanyak 10 poin? Sebesar apakah jarak 5 poin pada tes kecerdasan ini? Lalu, jika teman Anda yang lain, D, tidak bisa menjawab satu pun soal tersebut, apakah artinya D tidak memiliki kecerdasan? Hal inilah yang menjadi sulit dalam pengukuran psikologis untuk menetapkan satuan ukur dengan jarak standar seperti pada pengukuran dimensi fisik. Berbeda dengan pengukuran menggunakan penggaris, yang mana panjang 10 cm berarti dua kali lipat dari 5 cm.


Terakhir, pengukuran suatu aspek psikologis perlu menunjukkan bukti hubungan dengan aspek psikologis lainnya. Kita perlu memahami bahwa tidak ada aspek psikologis yang berdiri sendiri sehingga setiap aspek psikologis memiliki singgungan dengan aspek lainnya. Sebagai contoh adalah gaya kepemimpian. Suatu alat tes yang ditujukan untuk mengidentifikasi gaya kepemimpinan akan menjadi kurang bermanfaat apabila alat tes tersebut hanya dapat menggambarkan tipe gaya kepemimpinan. Ia akan menjadi lebih bermakna apabila proses penyusunan alat tes juga disertai bukti hubungan antara gaya kepemimpinan dan kepuasan kerja.


Di atas semua permasalahan yang telah dijabarkan, tentu terdapat langkah-langkah yang menjadi siasat dalam konstruksi alat ukur psikologi. Adanya kesalahan (error) dalam pengukuran psikologis tidak berarti hasil tersebut salah total dan tidak bisa digunakan. Kurangnya definisi satuan ukur yang baku bukan berarti tidak bisa dibuat satuan ukur yang sesuai untuk pengukuran psikologis yang spesifik. Di artikel-artikel CodePsy selanjutnya, permasalahan ini akan kembali disinggung dan dibahas, dipadu dengan metode dan konsep teoritis untuk menjawab permasalahan ini.

Referensi

Crocker, L. & Algina, J. (1986). Introduction to classical & modern test theory. Belmont, CA: Wadsworth Publishing.

1,589 views0 comments