• CodePsy

PSYINFO1: Tes 16 Tipe Kepribadian MBTI

Penulis: Eugenia Emile Natasha

Editor: Edwin Sutamto


Pembahasan tentang alat ukur psikologi tidak terlepas dari beragam tes psikologi populer yang mudah diakses melalui internet. Salah satu yang terpopuler adalah Myers-Brigg Type Indicator, lebih dikenal dengan tes MBTI. Tes ini menggolongkan individu ke dalam 16 tipe kepribadian berbeda-beda. Setiap tipe ditandai dengan kombinasi beberapa huruf kapital dengan maknanya masing-masing. Tentu saja, setiap huruf tersebut menggambarkan hal berbeda. Setiap kombinasi pun akan menghasilkan deksripsi tipe yang unik.

Sebelum masuk lebih dalam ke pembahasan tentang tes ini, kita perlu memahami landasan teori dibuatnya alat ukur ini. MBTI merupakan sebuah tes kepribadian, yang memandang kepribadian manusia sebagai hal yang cenderung menetap, terutama setelah memasuki tahap perkembangan dewasa. MBTI dikembangkan berdasarkan teori tipologi kepribadian milik Carl Jung dan sudah mulai disusun sejak tahun 1940. Setiap orang dipandang memiliki kecenderungan tertentu dalam memandang dan menjalani hidup. Kecenderungan-kecenderungan ini merupakan dasar dari beragam fungsi manusia, seperti ketertarikan, kebutuhan, nilai-nilai, dan motivasi. Kecenderungan ini dipandang sebagai sebuah tipologi dari tiga buah dimensi. Oleh Myers-Briggs, dimensi ini mendapat tambahan satu dimensi, sehingga MBTI yang kita kenal saat ini mengukur empat dimensi: sikap tentang hidup (extrovert-introvert/E-I), cara memroses informasi (sensing-intuiting/S-N), mengambil keputusan (thinking-feeling/T-F), dan cara menjalani hidup (judging-perceiving/J-P). Dimensi cara menjalani hidup (J-P) inilah yang merupakan dimensi tambahan pada MBTI.

Mari kita bahas lebih lanjut tentang setiap dimensi. Dalam teori asalnya, extrovert dan introvert menggambarkan kecenderungan seseorang untuk memfokuskan energi pada dunia luar di sekelilingnya (extrovert) atau pada keadaan subjektif diri sendiri (introvert). Dengan demikian, dimensi ini disebut sebagai dimensi sikap tentang hidup. Bagaimana individu mencerna informasi dari lingkungan terbagi atas dua, yaitu mencerna informasi utuh dan langsung berdasarkan sensasi panca indra (sensing) dan berusaha mencari pemaknaan lebih mendalam tentang terjadinya suatu peristiwa (intuiting). Kedua hal ini membentuk dimensi cara memroses informasi. Setelah sebuah informasi diartikan, ada keputusan yang harus diambil. Keputusan ini didasarkan pada logika objektif (thinking) atau pada subjektivitas dan pendekatan interpersonal (feeling). Meskipun demikian, orang dengan kecenderungan feeling pun tetap mempertimbangkan fakta dalam pengambilan keputusan. Dimensi terakhir, yaitu cara menjalani hidup, memiliki dua kutub: menjalani hidup dengan spontanitas (perceiving) atau dengan perencanaan yang matang (judging).

Tipologi ini merupakan bagian dari watak (trait) yang tercerminkan dalam cara individu berperilaku di keseharian, sehingga belum menggambarkan dinamika watak yang mendasari kepribadian seseorang secara mendalam. Jika dianalogikan manusia sebagai sebuah pohon, maka MBTI menngambarkan manusia melalui batang dan daunnya, namun MBTI belum mencakup akar dari pohon tersebut yang cenderung tidak tampak, tetapi menjadi fondasi bagi tumbuhnya bagian lain dari pohon.

Keunggulan MBTI terletak pada pandangan dalam memandang manusia. Pendekatan watak ini memandang manusia berdasarkan empat dimensi non patologis, artinya, ada pandangan bahwa manusia cenderung bersikap adaptif serta tidak selalu mengarah pada gangguan patologis. Pandangan ini menjadi salah satu alasan populernya MBTI di kalangan awam, terutama untuk mengetahui dan memahami lebih jauh tentang diri sendiri. Selain itu, manusia memiliki kencenderungan membuat dan menyukai kategorisasi, sehingga hasil MBTI yang berupa kategorisasi pun lebih disukai.

Alat ukur ini sudah mengalami serangkaian revisi dan adaptasi ke dalam bahasa-bahasa lain, sehingga memiliki kesan lebih mudah diakses dan digunakan. Selain itu, cara pengerjaan, penilaian, serta interpretasinya pun tampak sederhana dan intuitif. Alasan kemudahan dan popularitas ini membuat banyaknya penggunaan MBTI di beragam latar, seperti pendidikan, industri organisasi, tetapi jarang digunakan pada latar klinis. Hingga saat ini, MBTI masih banyak digunakan untuk membantu pengambilan keputusan terkait pendidikan, seperti jurusan mana yang harus dipilih, dan penentuan arah karir, seperti jenis pekerjaan apa yang cocok dengan kepribadian Anda. MBTI juga banyak digunakan sebagai hiburan dalam rangka mengenal diri sendiri lebih jauh. Artinya, kaum awam banyak menggunakan MBTI hanya karena keingintahuan tentang tipe kepribadiannya. Penggunaan MBTI juga digunakan dalam bidang komunikasi dan manajemen kelompok, terutama dalam latar organisasi dan industri.

Keempat dimensi MBTI bersifat bipolar dan dikotomus, artinya setiap dimensi memiliki dua kutub berseberangan dan setiap orang hanya bisa memiliki satu kencederungan saja. Tentu saja hasil yang keluar dari skala dan cara penilaian MBTI adalah tipe kepribadian dengan empat huruf kapital sebagai penanda sebuah tipe. Kendati demikian, hasil ini pun membatasi interpretasi mendalam tentang posisi individu dalam dimensi tersebut, terutama dalam hal prediksi perilaku. Sebagai contoh, tipe kepribadian Anda adalah ENTJ. Jika Anda berada di tengah-tengah skala, namun tetap condong kepada E, akan sangat berbeda maknanya jika Anda berada pada ujung kiri E dan tergolong sebagai E. Selain itu, interpretasi yang banyak tersedia hanya menggambarkan kecenderungan umum setiap tipe dan tidak menggambarkan keunikan setiap individu. Karena sifatnya yang terlalu umum dan tidak merinci, hasil tes ini pun sulit dijadikan prediktor dalam memprediksi perilaku seseorang di masa depan.

Karakteristik hasil MBTI, yaitu kategori kepribadian individu, membuat alat ukur ini menuai kritik dari para profesional dan peneliti di bidang psikologi. Selain karena masalah psikometri, alat ukur ini juga dianggap melenceng dari teori utama Carl Jung, yang dinyatakan sebagai acuan penyusunannya, dalam usaha menggambarkan kepribadian manusia. Hasil alat ukur ini seakan terlalu menyederhanakan kepribadian manusia ke dalam 16 tipe kepribadian, yang sesungguhnya sangat kompleks dan dinamis, serta memerlukan pemahaman lebih mendalam.

Ahli psikologi dan peneliti meragukan keabsahan MBTI untuk mengukur kepribadian berdasarkan teori milik Carl Jung. Sama seperti MBTI yang dikembangkan Myers dan Briggs, teori aslinya pun tidak disusun berdasarkan pada observasi empiris dan metodologis. Oleh karena itu, teori ini diragukan keabsahannya dan dianggap kurang objektif. Tanpa dukungan teoritis yang kuat, interpretasi hasil tes berdasarkan kencenderungan pada setiap domain pun dapat menjadi kurang akurat dan tepat.

Meksipun seakan menghasilkan hasil yang unik untuk setiap orang, hasil tes MBTI hanya memberikan gambaran generalisasi tentang sebuah tipe. Karena sifat dimensinya dikotomus, semua butir soal harus dijawab berdasarkan dua cenderungan yang mungkin keduanya tidak menggambarkan diri kita. Agar lebih jelas, mari kita buat ilustrasi sebagai berikut. Dimensi sikap tentang hidup memiliki skor yang mungkin antara 10 hingga 100, dengan penggunaan batas < 60 tergolong introvert, sedangkan => 60 tergolong extrovert. Kemudian A mendapat skor 60 pada tersebut, artinya, A tergolong extrovert. B mendapat skor 59 pada dimensi yang sama, lalu tergolong introvert. Padahal, perbedaan yang mereka miliki hanyalah satu skor. Kemudian, C memiliki skor 15, yang membuatnya tergolong introvert. B dan C sama-sama introvert dan memiliki tipe yang sama, namun terdapat perbedaan skor sebanyak 45 poin. Perbedaan individual ini belum tergambarkan dengan jelas dari hasil alat ukur MBTI.

Ilustrasi di atas juga menggambarkan bahwa hasil MBTI yang berupa tipe kepribadian itu juga sangat bisa berubah, ketika seharusnya hasil tersebut cenderung sama. Orang-orang dengan skor menengah ini bisa saja mengalami perbedaan tipe karena sebenarnya ia tidak condong pada kedua pilihan terkait. Pembahasan dua poin berdasarkan ilustrasi di atas pun didukung oleh bukti statistik.

Seperti alat ukur psikologis lainnya, penggunaan MBTI untuk keperluan dan populasi yang berbeda pun membutuhkan pengujian reliabilitas ulang. Sayangnya, belum banyak pengguna tes yang sadar akan hal ini. Sebagai salah satu komponen psikometrik, reliabilitas membicarakan tentang konsistensi hasil tes. Berdasarkan kajian literatur, nilai reliabilitas MBTI pun cenderung berubah-ubah. Adanya perubahan ini menunjukkan kebutuhan pengujian reliabilitas kembali ketika hendak menggunakan MBTI. Idealnya, uji ini dilakukan terhadap populasi dengan karakteristik yang sama atau mendekati para peserta tes.

Terkait dengan interpretasi hasil tes, sama seperti alat ukur psikologis lainnya, deskripsi dari hasil tes ini pun perlu disupervisi oleh pihak yang kompeten, seperti psikolog. Pembuatan interpretasi ini menuntut adanya pemahaman lebih mendalam dan komprehensif tentang teori dasar MBTI. Berbagai interpretasi yang dengan mudah diakses melalui internet terkesan menyederhanakan dinamika kepribadian manusia dan terlalu luas, sehingga tidak menggambarkan keunikan setiap individu.

Meskipun saat ini para ahli dalam bidang pengukuran psikologi pun mengupayakan peningkatan karakteristik psikometrik MBTI, adanya kontroversi terkait fondasi teoritis MBTI menjadi rambu-bagi para pengguna tes ini untuk lebih berhati-hati dalam menginterpretasi hasilnya. Pertimbangan teoritis, psikometris, serta praktis terkait penggunaan tes ini perlu diperhatikan sebelum mengambil suatu keputusan. Bagi awam, tidak ada salahnya mencoba tes ini untuk mengetahui tentang diri sendiri, tetapi Anda perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam “pengotak-kotakan orang” berdasarkan 16 tipe kepribadian ini. Bagi praktisi atau pengguna tes psikologis, MBTI tetap dapat digunakan secara terbatas tetapi tentu hindari pembuatan keputusan berdasarkan hasil tes ini saja.

Referensi:


Boyle, G. J. (1995). Myers-Briggs Type Indicator (MBTI): Some psychometric limitations. Humanities & Social Sciences Papers.


Capraro, R. M. & Capraro, M. M. (2002). Myers-Briggs Type Indicator score reliability across studies: A meta-analytic reliability generalization study. Educational and Psychological Measurement, 62(4), 590-602.


Myers, I. B. & Myers, P. B. (1995). Gifts differing: Understanding personality types. Palo Alto, CA: Consulting Psychologist Press.


Pittenger, D. J. (2005). Cautionary comments regarding the Myers-Briggs Type Indicator. Consulting Psychology Journal: Practice and Research, 57(3), 210–221.

48 views0 comments